Kesalahan Klopp Buat Madrid Jadi Juara Liga Champions
Kesalahan Klopp Buat Madrid Jadi Juara Liga Champions

Jurgen Klopp dianggap membuat kesalahan yang menyebabkan Liverpool kembali kalah kalah dari Real Madrid pada laga final Liga Champions. Setelah gagal menjadi juara pada Liga Inggris akhir pekan yang lalu, Liverpool memfokuskan diri pada final Liga Champions.

Berjumpa dengan Real Madrid di final UCL 2021/2022 pada Minggu 29 Mei kemarin. Liverpool berniat untuk membalas dendam pada Los Blancos atas kekalahan mereka pada final di musim 2017/2018. Tim asuhan Klopp dipaksa menerima kekalahan dengan skor 1-3. Saat itu, kekalahan Liverpool disebabkan karena cederanya Mohammed Salah setelah berjibaku dengan Sergio Ramos, dan dua blunder yang dilakukan Loris Karius.

Kini, dengan mengandalkan trio Salah, Mane dan Diaz, The Reds mencoba menggedor pertahanan Los Blancos. Sayang sekali mereka mengalami kesulitan menundukkan Thibaut Courtois.

Bahkan Real Madrid mampu membobol gawang Liverpool telebih dulu pada injury babak pertama dengan gol Benzema. Nasib baik Liverpool, gol tersebut dianulir sebab Benzema dianggap terjebak offside. Sampai dengan akhir babak pertama pertandingan, kedua tim harus puas dengan skor 0-0.

Meski babak kedua dominasi serangan masih terlihat di kubu Liverpool. Namun Real Madrid juga mulai bisa menghadapi tekanan hingga pada menit ke-59, Los Blancos akhirnya berhasil membuat angka pertama dengan serangan cepat Vinicius Junior yang mampu memanfaatkan umpan dari Federico Valverde. 

Terkejut dengan hasil serangan tersebut, Liverpool mencoba meningkatkan tekanan. Sayangnya, mereka tidak mampu membuat Thibaut Courtois tunduk, kiper Los Blancos tersebut justru tampil apik dan melakukan 9 kali penyelamatan. Pertandingan berakhir dengan skor 1-0 untuk Real Madrid, hal itu membuat mereka memenangi UCL untuk ke-14 kali.

Pada sisi lain, setidaknya Jurgen Klopp melakukan 4 blunder yang membuat Liverpool kalah dari Madrid pada final Liga Champions. Kesalahan apa saja yang dibuat oleh Klopp? Berikut ulasannya:

Daftar Kesalahan Klopp pada Final Liga Champions 2021/2022

Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold
Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold

1. Dominasi yang Gagal Dimanfaatkan Liverpool

Dengan misi untuk balas dendam, Liverpool bermain dengan dominan pada babak pertama. The Reds mampu mendominasi bola dan berhasil membuat sejumlah peluang.

Hal tersebut memaksa kiper Real Madrid untuk melakukan 4 kali penyelamatan hanya dalam 20 menit pertama.

Meski sepanjang pertandingan The Reds mampu membuat 24 tembakan, tetapi tidak ada satupun yang berbuah menjadi gol. Ketidakmampuan untuk memanfaatkan dominasi berubah menjadi bencana saat Los Blancos berhasil menjebol gawang Liverpool.

Jurgen Klopp seolah tidak mampu menemukan strategi lain agar anak asuhnya mampu menembus dinding pertahanan Real Madrid. Pergantian pemain yang dilakukannya pun tidak terlihat efektif.

2. Mengubah Tempo Permainan

Pada babak pertama, Liverpool mencoba untuk menekan lawan dengan permainan bertempo dan pressing tinggi. Hal ini rupanya menyulitkan usaha Real Madrid untuk membangun serangan.

Terlebih Jordan Hendenson pun tampak beberapa kali memberikan tekanan pada Thibaut Courtois untuk membuat sang kiper memulai serangan. Skenario tersebut berjalan cukup baik pada babak pertama dan membuat Madrid terkurung pada wilayah sendiri dan tidak mampu meningkatkan permainan.

Sayangnya, Liverpool mulai mengurangi tempo dan tekanan saat memasuki babak kedua, hal ini membuat Federico Valverde mampu menyisir sayap kanan dan memberikan umpan kepada Vinicius Jr yang berakhir dengan gol. Setelah itu, The Reds terlihat kesulitan untuk mengembalikan tempo dan terjebak pada permainan Madrid.

3. Kelemahan di Sayap

Meski Alexander-Arnold adalah salah satu pemain andalan Liverpool di musim ini. Namun, kelemahannya pada pertahanan memang menjadi sorotan. Menjelang final Liga Champions, duel antara Alexander-Arnold dengan Vinicius Jr menjadi sorotan. Banyak orang menilai apabila kecepatan Vinicius Jr akan membuat masalah bagi Alexander-Arnold.

Ancaman tersebut menjadi nyata saat Alexander-Arnold sering membiarkan Vinicius untuk bergerak dengan bebas, hingga tugas tersebut pun diambil alih Ibrahima Konate.

Pada babak kedua, Petaka terjadi saat Madrid menguasai bola pada tengah lapangan, Alexander-Arnold tidak mengawal Vinicius dan tertarik pada Karim Benzema. Hal tersebut berakibat Vinicius mampu menerima umpan Frederico Valverde dan membuat gol kemenangan untuk Real Madrid.

4. Duo Full Back yang Buruk

Duo full back memang menjadi salah satu kunci membuat serangan pada strategi Klopp. Dimana kedua full back aktif untuk maju ke depan dan mengirimkan bola hingga kotak penalti. Tetapi, kinerja Andy Robertson dan Alexander-Arnold di final Liga Champions malah terbilang buruk dan membuat skema serangan tak berjalan baik. Sebagai contoh, meski Trent Alexander-Arnold sukses membuat umpan silang 9 kali, tetapi hanya 2 yang menemui sasaran.

Sedangkan Andy Robertson bahkan gagal membuat 1 umpan silang yang akurat, meski dirinya mencoba sebanyak 5 kali. Jurgen Klopp pun tidak mencoba mengatasi masalah ini dan lebih memilih mempertahankan keduanya hingga 90 menit daripada pemain alternatif.