Kesulitan Atletico Madrid Menembus Garis Pertahanan Chelsea

Duel alot mewarnai kesulitan Atletico Madrid dalam rangka mengalahkan wakil Inggris pada lanjutan babak 16 besar Liga Champions Eropa. Meski tren positif mereka di kompetisi domesti Liga Spanyol dengan catatan masih kokohnya dipuncak klasemen, hal itu tidak berpengaruh dalam pertandingan yang digelar pada Rabu dini hari waktu Indonesia Barat. Mereka kelihatan menemui jalan buntu ketika melakukan penyerangan.

Hal itu sangat kelihatan dengan catatan statistic usai laga tersebut berakhir. Padahal dalam kompetisi liga Spanyol, mereka selalu menguasai pertandingan ketika melawan tim-tim pesaing. Namun dalam laga semalam, mereka seperti kehilangan taring dan jati diri sebagai pemuncak klasemen LaLiga. Padahal mereka bermain di kandang.

Untuk musim lalu saja, Atletico Madrid di babak 16 besar berhasil mengalahkan wakil Inggris yang juga sebagai juara bertahan Liga Champions pada waktu itu yaitu Liverpool dengan skor tipis 1-0 saja. Namun untuk pertandingan melawan Chelsea kali ini, kesulitan Atletico Madrid dalam misinya mengalahkan tim London Biru sangat terlihat dan memang mengalami kebuntuan.

Namun menurut sang entrenador Diego Simeone mereka akan memaksimalkan leg ke-2 yang akan berlangsung di stadion Stamford Bridge atau lebih tepatnya markas Chelsea. Mereka akan habis-habisan demi mendapatkan satu tiket ke babak 8 besar Liga Champions Eropa musim 2020/2021 ini. Luis Suarez diharapkan mampu menjadi ujung tombak untuk mengobrak-abrik pertahanan Chelsea di leg kedua nanti.

Possesion Ball yang Sangat Buruk

Dilihat pada laga semalam, banyak sekali faktor yang membuat kesulitan Atletico Madrid dalam hal menembus pertahanan Chelsea sangat terlihat sekali. Hal itu tercermin dalam statistic ball possession yang terpantau cukup jauh jaraknya. Statistik menjelaskan bahwa dari segi tuan rumah yaitu Atletico hanya memiliki ball possession 36% dibandingkan Chelsea dengan 64%.

Meki tipikal permainan dari tuan rumah memang mengandalkan serangan balik dan rapat dalam barisan pertahanan, dari statistik tersebut sangat terlihat mereka sangat sulit untuk membongkar lini pertahanan yang digalangi oleh Azpilicueta dan kawan-kawan. Jangankan menembus, mendominasi jalannya pertandingan saja mereka sangat sulit.

Padahal sebagai tim tuan rumah, ketika tertinggal seharusnya mereka menguasai pertandingan untuk bisa menyamakan kedudukan bahkan unggul kembali. Karena jika mereka kalah akan berdampak pada leg kedua dan harus mengejar selisih gol tandang yang berlaku aturannya di UCL. Kesulitan Atletico Madrid dalam hal ini memang harus segera dibenahi oleh pelatih Diego Simione.

Minimnya Kreativitas Dalam Melakukan Penyerangan

Selain dilihat dari Ball Possesion faktor lain yang membuat mereka kalah dikandang dalam lanjutan leg 1 untuk babak 16 besar UCL yaitu tidak adanya Shot on Goal atau tendangan ke gawang Chelsea dari barisan penyerang Atletico. Padahal bermain dikandang sendiri seharunya ada motivasi tersendiri bagi para pemain untuk bermain menyerang dan mendapatkan gol agar langkah mereka lebih ringan di leg kedua nanti.

Padahal tim lawan yaitu Chelsea sendiri sebagai tim tandang memperoleh tendangan kegawang totalnya 5 dari 11 kali percobaan tendangan. Sementara dari sisi tuan rumah mereka tidak bisa mendaratkan tembakan pas ke arah gawang dari total 6 kali percobaan saja. Kesulitan Atletico Madrid ini sebagai evaluasi besar-besaran garis penyerangan demi bisa berbicara banyak pada UCL 2020/2021.

Namun perlu diingat, ini masih atau baru leg pertama diajang 16 besar liga Champions Eropa. Masih banyak kemungkinan terjadi di leg kedua nanti saat akan digelar di Stamford Bridge markas tim London Biru Chelsea. Kesulitan Atletico Madrid pada leg pertama kemarin akan menjadi bahan dasar Diego Simeone meracik strategi jitu menembus pertahanan Chelsea.