Matthijs de Ligt Beberkan Alasan Kepergiannya Dari Juventus
Matthijs de Ligt Beberkan Alasan Kepergiannya Dari Juventus

Bek terbaru Bayern Munchen, Matthijs de Ligt beberkan alasan kepergiannya dari Juventus dan memilih untuk melanjutkan karier sepakbolanya di Allianz Arena.

Seperti yang kita ketahui, Munchen berhasil mendapatkan jasa dari pemain asal Belanda tersebut di bursa transfer musim panas ini.

Bersama Die Bayern, de Ligt menandatangani kontrak selama 5 tahun hingga Juni 2027 mendatang.

Kabarnya, raksasa Bundesliga tersebut mendatangkan pemain berusia 22 tahun itu dengan nilai transfer sebesar 70 juta uero atau senilai dengan 1 triliun rupiah. Nilai tersebut masih termasuk dengan bonus sebesar 10 juta euro.

Total nilai yang dibayarkan saat Die Roten mendatangkan de Ligt ke Allianz Arena adalah 80 juta Euro. Dengan nilai tersebut, Juventus mendapatkan untung sebesar 5 juta euro, lantaran Si Nyonya Tua memboyongnya dari Ajax dengan nilai 75 juta euro.

Kepindahan pemain timnas Belanda tersebut rencananya untuk menggantikan Niklas Sule, yang pindah ke Borussia Dortmund.

Kepindahannya otomatis membuat Juventus kesulitan karena harus kehilangan salah satu bek andalan mereka, mengingat usia Leonardo Bonucci yang telah menginjak 35 tahun.

Matthijs de Ligt yang telah resmi berseragam Munchen belum lama ini mengungkapkan alasannya pindah dari Allianz Stadium.

Alasan Kepindahan De Ligt

Matthijs de Ligt

Saat dirinya bergabung dengan Die Roten dan mengikuti latihan bersama pemain yang lain, ia mengungkapkan apabila sesi latihan Bayern Munchen merupakan sesi paling berat.

Pada sisi lain, pemain berusia 22 tahun itu menjelaskan alasannya memilih untuk hengkang ke Allianz Arena, karena ketidakcocokannya dengan gaya bermain sang pelatih, Massimiliano Allegri.

Dilansir dari Footbal Italia, pemain kelahiran Leiderdorp, Belanda itu tertarik bergabung dengan Si Nyonya Tua karena ingin dilatih oleh Maurizio Sarri.

Ia mengungkapkan sulitnya mengekspresikan diri bagi pemain muda seperti dirinya saat bergabung dengan klub sebesar Juventus.

Matthijs de Ligt menambahkan dirinya banyak belajar dan berusaha untuk mengambil sebanyak mungkin dari para pemain lainnya agar dirinya bisa menjadi lebih baik.

Pasalnya, dirinya datang saat Juve masih diperkuat oleh Giorgio Chiellini, Gianluigi Buffon dan Leonardo Bonucci.

Selain hal diatas, terdapat juga masalah taktis dimana posisinya di tim berubah menjadi bek kiri, yang mana sebelumnya adalah bek kanan saat dirinya bermain untuk Ajax. Di Juventus sendiri posisi bek kanan merupakan tempat Giorgio Chiellini.

Dirinya menambahkan gaya permainan tersebut berbeda dengan Ajax yang mengusung sepakbola menyerang, di Bianconeri lebih tentang apa yang ada lini belakang.

Pemain timnas Belanda itu menilai apabila kecepatan liga Italia lebih lambat. Dulunya ia berharap untuk memainkan tipe sepakbola menyerang dibawah Maurizio Sarri, tetapi sayangnya sang pelatih hanya bertahan selama 1 tahun sebelum dipecat.